Bunga mawar mekar bersemi, harum, indah, merah menyala walau berduri, yang dulu sempat ku lempar di atas boomerang tak menemui sasaran dan kini telah mendarat sempurna di hati. Jam berdetak, berbumbu opini bergeming kokoh dalam mangkuk prasangka, namun masih terselip sedikit sisa bahan bakar hati yang dulu sempat bersarang. Kau paksa kau isi cawan kecil ini, dimana pahala dan dosa semua bersarang, dengan gula pasir manis nan legit menarik semut-semut kecil tak berdosa yang akhirnya sekarang kututup erat dengan tutup merah muda.
Namun jam tak kuat berdetak, opini yang bergeming di atas gula manis kini tlah runtuh dimakan waktu, lantas kau seperti sekejap cahaya di ruang hampa, tak sempat ku menangkap tapi membekas.
Pensil warna pengatur pikiran, yang sempat tergores sempurna, apa daya air tlah tersiram ke atas kanvas, sesaat setelah ku melukis suatu berita bahagia.
Gambaran abstrak, mengabstraksi pengatur pola pikir, di atas bulan di selimuti langit hitam bercorak titik-titik cahaya, yang membuatku sulit beranjak tuk menggapai cahaya kecil dengan tangga mimpi bersifat kokoh dengan semangat, namun lemah oleh prasangka.
Kini ku bermajas hiperbola, hingga merendah dihadapan sang pengatur skenario kehidupan, dengan bersifat setengah sadar ku suguhkan berita lama, bahwa duri mawar itu sudah menancap erat di kepalaku walau ku tak rasa apa-apa, dan ingin kutukar dengan berita baru di atas mangkuk emas sebagai pengganti pelita yg telah padam tertiup angin sekitar, dimana sesuatu yg telah kujaga kini hilang karena aku lengah dihadapkan pada senyum-senyum palsu.
-Bayu-
No comments:
Post a Comment